Selasa, 14 Februari 2012

cerpen


"Gadis Berkerudung Biru"

"Aku juga menunggumu...” lirihku sambil menyeruput kopi yang masih panas.
Beberapa tahun yang lalu, masih jelas dalam ingatanku saat pertama kali bertemu dengannya. Di sebuah pasar yang dipenuhi hiruk pikuk pedagang dan pembeli. Waktu itu aku sedang mencari sayur-mayur dan bumbu keperluan dapur. Ya, aku memasak sendiri. Maklum, uang saku yang tak menentu dari ortu membuatku untuk menggunakannya sehemat mungkin. Terlihat jelas wajah anggun di balik kerudung birunya yang rapat. Matanya yang lentik bening, pipinya yang cekung saat tersenyum dan bibirnya yang tipis membuat ia begitu manis. Semua itu sudah cukup untuk membuat para lelaki untuk tak jatuh cinta padanya. Termasuk aku. Setelah membayar pada penjual, ia berjalan menuju pintu keluar bersama temannya. Sama sekali tak menghiraukan aku yang sedari tadi memperhatikannya.
“Tuku opo le?” suara penjual menyadarkanku dari lamunan.
Minggu demi minggu telah berjalan. Masih saja pertemuan itu membekas. Mengakar kuat dalam hati. Seolah-olah menjadi bayangan yang mengikuti kemanapun aku pergi. Selalu saja ada pertanyaan yang membuatku bingung mencari jawabannya. Siapa namanya? Tinggal di mana? Lagi apa sekarang?. Hingga sampailah pada suatu hari, hari yang mulai mengubah arah hidupku. Aku ditimbali Romo Yai...
“Qih, Aku njaluk tulung, mulai saiiki sampean mbantu nang ndalem. Cak Salim ape boyong. mariki tumbasno bumbu-bumbu pawon. lak wes mari, sampean salap mejo pawon. Aku ape lungo. Lak enek tamu suguhono wedang. Iki duwite”. Dawuh Romo Yai dengan lembutnya sambil berlalu.
“nj...njeh yai..” ucapku setengah gagap. Karena tak menyangka dengan tawaran Romo Yai yang mendadak.
Dan kenapa pula Mohammad Faqih ini yang dipilih menduduki “jabatan” kehormatan jadi abdi ndalem. Dari sekian ratus santri yang ada, aku termasuk santri yang bodoh. Bisanya Cuma main sepak bola. Ah..aku tak mau berandai-andai. Lebih baik segera kujalankan titah Romo Yai. Beli bumbu dapur.
Aku berjalan setengah berlari ke dapur. Ternyata cukup berat belanjaanku. Tanpa pikir panjang langsung ku taruh belanjaanku di meja. Dan...pranggg...Tanpa tersadari, aku menyenggol piring di atas meja. Malu aku jika sampai bu Nyai tahu. Dan benar saja, tak lama kemudian terdengar suara bu Nyai,
“sinten niku?”
Waduh, tambah berkeringat aku demi mendengar pertanyaan itu. Tapi rasanya ada yang aneh dengan suara bu Nyai. Sejurus kemudian muncul seorang wanita. Bukan bu Nyai..asing.. Aku curi pandang sedikit. Tak ku duga sama sekali. Masya Allah, aku pernah melihatnya. Gadis manis berkerudung biru yang ada di pasar itu. Aku terkesiap, mulutku terkunci.
“Kamu cak Faqih yang diutus abah ya? Kok kayak pernah lihat ya?”
“neng Ida...” terdengar suara dari dalam memanggilnya. Aku masih merunduk gugup sambil sesekali meliriknya.
“Tolong ya cak segera dibersihkan pecahannya. jangan lupa sebelum pergi makan dulu. nasinya ada di situ. Sudah ya, ada yang memanggilku.” Ucapnya sambil menunjuk tempat nasi. Kemudian segera berlalu.
Aku masih setengah percaya dengan apa yang aku lihat barusan. Apakah ini mimpi? rasanya bukan. Gadis yang selama ini kurindukan kehadirannya, yang selalu ku impikan di setiap malamku sekonyong-konyong muncul di hadapanku dengan cahaya bidadari lewat senyumya. Lebih mengejutkan lagi dia dipanggil neng. Itu artinya, dia putri Romo Yai. Ya Allah, kenapa aku harus tertarik pada hambamu yang seanggun dia, sesolehah dia, putri Romo Yai, yang dengan melihatnya saja aku tak kuasa. Mana mungkin santri sepertiku pantas mendapatkan neng Ida.
Aku tak mau terjebak oleh harapan-harapan yang tinggi. Aku mencoba realistis. Hari-hari yang berlalu ku abdikan sepenuhnya pada Romo Yai. Mengepel ndalem, memijat Romo Yai, belanja ke pasar, dan seabreg tugas lain. Meskipun dengan pekerjaan seperti itu, aku tidak bisa menolak untuk sering bertemu neng Ida. Walau hanya sebatas melihatnya. Belakangan ku ketahui nama lengkapnya Zahrotul Mufida. sebuah nama yang indah. Seindah langit sore saat aku ditimbali Romo Yai,
“Nak, saya akui, pekerjaanmu bagus. Pengabdianmu benar-benar ikhlas. Tapi,tak lihat-lihat kamu semakin ketinggalan pelajaran semenjak bantu di ndalem ini. Aku ingin, mulai sekarang, selain ikut diniyyah, kamu juga ikut ngaji ke saya. Bersama gus-gus juga. pokok’e seng sregep. Insya Allah ada yang menunggumu.”
“Sepuntene Yai, maksudnya ada yang menunggu saya itu apa?” Timpalku begitu penasaran.
“Sebenarnya aku mau menjodohkanmu dengan seseorang. Dia pernah melihatmu di Pasar. Selama ini dia juga diam-diam memperhatikanmu. Bagaimana kamu bekerja dan bagaimana akhlakmu. Dia sendiri yang bercerita kepadaku. Akupun merasa kalian juga cocok. Dia putriku, Zahrotul Mufida.” ucap Romo Yai dengan penuh kesungguhan.
“ngapunten Yai, kulo mbo..mboten pantes.” ucapku tergagap. antara perasaan malu, senang, dan hina. Siapalah aku? aku bertanya pada diriku sendiri.
“Wes to le, gak usah cilik ati. seng penting, saiki ngajimu disregepi. Apalane Al Quran di lalar terus. Saben dino setoran nang aku. Wes magrib. Ndang bali nang pondok.”
Sampai sekarangpun aku terheran-heran. Lagi-lagi kenapa aku yang dipilih oleh Yai. Maha Suci Allah yang telah mengatur segala nasib hamba-Nya. Kuhabiskan sisa kopi yang telah dingin bersama purnama bulan yang sedari tadi menemaniku.


by Fahmi El Rozi

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates